the old money aesthetic
psikologi di balik tren pamer kekayaan yang terlihat sederhana
Pernahkah kita menyadari ada yang berubah dengan linimasa media sosial kita akhir-akhir ini?
Tiba-tiba saja, banyak orang berhenti memakai sabuk dengan gesper logo raksasa. Jaket penuh corak merek desainer perlahan menghilang. Sebagai gantinya, kita melihat lautan kemeja linen berwarna netral, sweter rajut tanpa merek, dan sepatu pantofel yang terlihat begitu sederhana.
Gaya ini punya nama yang sangat populer: the old money aesthetic.
Secara harfiah, tren ini mencoba meniru cara berpakaian keluarga kaya lama. Mereka yang hartanya diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak ada pamer logo. Tidak ada warna mencolok. Semuanya serba sunyi, santai, namun entah kenapa memancarkan aura mahal yang mengintimidasi.
Namun, ada sebuah kejanggalan yang menggelitik pikiran saya. Jika inti dari gaya ini adalah "tidak pamer", mengapa begitu banyak orang berlomba-lomba memamerkannya?
Untuk memahami kejanggalan ini, teman-teman dan saya perlu mundur sejenak ke masa lalu.
Dalam sejarah manusia, pakaian selalu menjadi papan reklame berjalan. Di era Victoria, warna ungu sangat mahal karena pewarnanya langka. Hanya bangsawan yang bisa memakainya. Pakaian adalah cara instan untuk memberi tahu dunia di mana posisi kita dalam piramida sosial.
Lalu datanglah revolusi industri dan kebangkitan kaum nouveau riche atau orang kaya baru. Mereka punya uang berlimpah, tapi tidak punya gelar kebangsawanan. Cara mereka membuktikan diri? Membeli barang semahal mungkin dengan logo sebesar mungkin.
Ini bertahan hingga beberapa tahun lalu. Kita ingat era di mana memakai barang branded dari ujung kepala sampai ujung kaki adalah simbol kesuksesan tertinggi.
Tapi sejarah selalu berulang. Ketika sebuah simbol status menjadi terlalu pasaran, kelompok elite akan membuangnya dan menciptakan aturan main yang baru. Di sinilah bibit dari tren old money atau stealth wealth (kekayaan tersembunyi) mulai tumbuh.
Sekarang, mari kita pikirkan hal ini bersama-sama.
Bayangkan kita membeli sebuah kaus polos berwarna putih seharga sepuluh juta rupiah. Tidak ada logo, tidak ada tulisan. Orang di jalanan mungkin mengira itu kaus biasa seharga seratus ribu.
Lalu, apa gunanya mengeluarkan uang sebanyak itu jika tidak ada yang tahu? Bukankah manusia, sebagai primata sosial, secara alami ingin diakui oleh kawanannya?
Di sinilah letak teka-tekinya. Saat kita mengira orang-orang bergaya old money ini sudah tidak peduli dengan pengakuan sosial, sebenarnya mereka sedang memainkan permainan status yang jauh lebih rumit. Sebuah permainan yang dirancang sedemikian rupa agar hanya orang-orang tertentu yang bisa memahaminya.
Pikiran bawah sadar kita sedang diakali oleh sebuah trik psikologis yang sangat brilian.
Mari kita bedah rahasia besarnya. Dalam biologi evolusioner, ada sebuah konsep bernama teori sinyal mahal (costly signaling theory).
Contoh klasiknya adalah burung merak jantan. Ekor mereka yang besar dan berat sebenarnya menyulitkan mereka untuk lari dari pemangsa. Tapi justru itu poinnya. Sang merak seolah berkata: "Lihat, ekorku begitu berat, tapi aku tetap hidup. Artinya genetikku sangat superior."
Manusia melakukan hal yang sama. Kita memamerkan barang mahal untuk memberi sinyal bahwa kita punya sumber daya lebih. Dulu, sinyal ini berbentuk logo desainer raksasa. Fenomena ini disebut konsumsi mencolok (conspicuous consumption).
Namun, ketika barang tiruan makin mudah dibuat dan semua orang bisa menyicil tas desainer, logo raksasa kehilangan fungsinya. Sinyal itu tidak lagi "mahal".
Maka, kaum elite berevolusi. Mereka beralih ke konsumsi tidak mencolok (inconspicuous consumption).
Kaus putih tanpa merek seharga sepuluh juta tadi adalah contoh sempurna. Kaus itu terbuat dari bahan kasmir langka yang jahitan kerahnya hanya bisa dikenali oleh sesama orang kaya. Ini adalah dog whistle atau peluit anjing. Sebuah sinyal yang hanya bisa didengar oleh kelompok mereka sendiri.
Ini adalah bentuk arogansi tertinggi yang dibalut dalam kesederhanaan. Saat seseorang memakai gaya old money, secara psikologis mereka sedang berkata: "Saya sangat kaya, sampai-sampai saya tidak butuh logo untuk membuktikannya kepadamu. Saya hanya butuh pengakuan dari sesama miliarder."
Pada akhirnya, apa yang bisa kita pelajari dari fenomena ini?
Tren old money aesthetic di media sosial sebenarnya cukup ironis. Banyak dari kita yang mati-matian menabung untuk membeli barang tanpa merek yang terlihat mahal, hanya untuk memamerkannya di internet. Kita mencoba "terlihat tidak pamer" dengan cara memamerkannya.
Tidak ada yang salah dengan menyukai kemeja linen yang nyaman atau warna pastel yang kalem. Estetika ini memang indah dan elegan. Namun, teman-teman, kita harus sadar akan permainan psikologis di baliknya.
Kita tidak perlu merasa rendah diri hanya karena tidak terlahir dengan dana perwalian warisan kakek buyut. Kekayaan sejati tidak diukur dari seberapa halus bahan kaus polos yang kita pakai, atau seberapa pintar kita menyembunyikan merek sepatu kita.
Terkadang, kemewahan paling nyata dan old money yang sesungguhnya di era modern ini justru hal yang tidak bisa dipakai di tubuh kita: waktu luang yang cukup, pikiran yang tenang tanpa dikejar hutang, dan kebebasan untuk tidak peduli pada apa kata orang lain.